Kamis, 10 Maret 2016

Untung Rugi Prestasi



            Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa jumlah anggota pengangguran di Indonesia sudah bertumpah ruah. Sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan sarjana. Kaum intelektual yang digadang-gadang menjadi penerus bangsa ini nyatanya masih belum mampu mendefinisikan ke-sarjana-annya dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.
            Menurut data yang diperoleh dari badan pusat statistik (BPS) pada Februari 2015, penduduk bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD ke bawah sebesar 45,19 persen, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke atas hanya sebesar 8,29 persen. Banyak faktor yang menjadikan seorang sarjana ikut andil dalam menambah daftar anggota pengangguran di bumi pertiwi ini. Salah satunya adalah karena dirinya tidak mempunyai sesuatu yang dapat dijadikan sebagai penambah nilai jual. Nilai jual seseorang akan bertambah jika memiliki pembeda dengan seseorang yang biasa adanya.

            Kuliah yang memakan waktu 4-5 tahun dalam menambah ilmu pengetahuan tersebut  sangatlah menyia-nyiakan uang kuliah jika hanya diisi dengan aktivitas yang sama dan biasa-biasa saja pada setiap harinya. Datang-kuliah-pulang-mengerjakan tugas-kuliah lagi dan begitu seterusnya. Ditambah lagi jika daya penguasaan ilmu dan teori yang kurang semakin memperburuk nilai jual sebagai seorang sarjana. Kehidupan yang datar-datar saja semasa kuliah inilah yang menjadikan beberapa perusahaan enggan untuk memakai jasa seorang sarjana.
            Sebagai mahasiswa, seharusnya kuliah merupakan masa dimana harus belajar dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Belajar bukan berarti hanya mempelajari bidang yang menjadi pilihan kuliahnya saja, namun makna belajar di sini adalah belajar dalam hal apapun. Belajar untuk hidup mandiri contohnya, masih kurang diminati oleh sebagian mahasiswa. Karena mengandalkan orangtua yang sudah mapan dan adanya beberapa beasiswa bagi mereka yang kurang mampu, maka muncul perasaan tidak perlu lagi mencari-cari penghidupan untuk memenuhi kebutuhannya. Pada hakikatnya hidup mandiri bukan hanya berarti untuk mencari kekayaan dengan tangan sendiri, namun lebih kepada timbal balik apa saja manfaat yang didapatkan nantinya. Tidak akan lagi bergantung dengan yang namanya keadaan dan terasahnya softskill merupakan salah satu keuntungan yang didapatkan.
            Untuk menjadi mahasiswa antimainstream salah satunya adalah telah memiliki pengalaman bekerja. Entah itu berwirausaha ataupun memang sendirinya bekerja untuk turut membantu meringankan beban orangtua dalam membayar uang kuliah. Di sinilah peran mahasiswa ingin belajar hidup mandiri. Tidak banyak mahasiswa yang memiliki keterampilan seperti ini, karena dibutuhkan kreativitas, daya juang, dan ketekunan untuk mewujudkannya tanpa melupakan prioritasnya sebagai mahasiswa.
            Oleh karena itu, intelektualitas seorang mahasiswa tidak semata-mata dilihat melalui indeks prestasi akademik (IPK) saja, namun masih banyak prestasi lainnya yang dapat dijadikan acuan penilaian. Sangatlah rugi diri ini jika masa kuliah hanya dihabiskan dengan belajar demi mencapai indeks prestasi akademik (IPK) yang memuaskan tanpa menambah prestasi-prestasi lainnya yang juga mendukung keberlangsungan hidup seseorang. Menjadi mahasiswa yang mandiri merupakan penambah nilai jual sebagai lulusan sarjana nantinya dan hal ini merupakan salah satu upaya untuk mengurangi nilai statistik pengangguran di Indonesia. 
Oleh: Ihmah Risywandha
Mahasiswa Jurusan Matematika Semester 4
Universitas Negeri Surabaya
Untuk Seleksi Mahasiswa Mandiri Jawa Pos Edisi Kedua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar