Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa
jumlah anggota pengangguran di Indonesia sudah bertumpah ruah. Sebagian besar
anggotanya berasal dari kalangan sarjana. Kaum intelektual yang digadang-gadang
menjadi penerus bangsa ini nyatanya masih belum mampu mendefinisikan
ke-sarjana-annya dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.
Menurut data yang diperoleh dari
badan pusat statistik (BPS) pada Februari 2015,
penduduk bekerja masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD ke bawah
sebesar 45,19 persen, sementara penduduk bekerja dengan pendidikan Sarjana ke
atas hanya sebesar 8,29 persen. Banyak faktor yang menjadikan seorang
sarjana ikut andil dalam menambah daftar anggota pengangguran di bumi pertiwi
ini. Salah satunya adalah karena dirinya tidak mempunyai sesuatu yang dapat
dijadikan sebagai penambah nilai jual. Nilai jual seseorang akan bertambah jika
memiliki pembeda dengan seseorang yang biasa adanya.
Kuliah yang memakan waktu 4-5 tahun
dalam menambah ilmu pengetahuan tersebut
sangatlah menyia-nyiakan uang kuliah jika hanya diisi dengan aktivitas
yang sama dan biasa-biasa saja pada setiap harinya. Datang-kuliah-pulang-mengerjakan
tugas-kuliah lagi dan begitu seterusnya. Ditambah lagi jika daya penguasaan
ilmu dan teori yang kurang semakin memperburuk nilai jual sebagai seorang
sarjana. Kehidupan yang datar-datar saja semasa kuliah inilah yang menjadikan
beberapa perusahaan enggan untuk memakai jasa seorang sarjana.
Sebagai mahasiswa, seharusnya kuliah
merupakan masa dimana harus belajar dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Belajar
bukan berarti hanya mempelajari bidang yang menjadi pilihan kuliahnya saja,
namun makna belajar di sini adalah belajar dalam hal apapun. Belajar untuk
hidup mandiri contohnya, masih kurang diminati oleh sebagian mahasiswa. Karena
mengandalkan orangtua yang sudah mapan dan adanya beberapa beasiswa bagi mereka
yang kurang mampu, maka muncul perasaan tidak perlu lagi mencari-cari
penghidupan untuk memenuhi kebutuhannya. Pada hakikatnya hidup mandiri bukan
hanya berarti untuk mencari kekayaan dengan tangan sendiri, namun lebih kepada
timbal balik apa saja manfaat yang didapatkan nantinya. Tidak akan lagi
bergantung dengan yang namanya keadaan dan terasahnya softskill merupakan
salah satu keuntungan yang didapatkan.
Untuk menjadi mahasiswa antimainstream
salah satunya adalah telah memiliki pengalaman bekerja. Entah itu
berwirausaha ataupun memang sendirinya bekerja untuk turut membantu meringankan
beban orangtua dalam membayar uang kuliah. Di sinilah peran mahasiswa ingin
belajar hidup mandiri. Tidak banyak mahasiswa yang memiliki keterampilan
seperti ini, karena dibutuhkan
kreativitas, daya juang, dan ketekunan untuk mewujudkannya tanpa melupakan
prioritasnya sebagai mahasiswa.
Oleh karena itu, intelektualitas seorang mahasiswa tidak semata-mata
dilihat melalui indeks prestasi akademik (IPK) saja, namun masih banyak
prestasi lainnya yang dapat dijadikan acuan penilaian. Sangatlah rugi diri ini
jika masa kuliah hanya dihabiskan dengan belajar demi mencapai indeks prestasi
akademik (IPK) yang memuaskan tanpa menambah prestasi-prestasi lainnya yang
juga mendukung keberlangsungan hidup seseorang. Menjadi mahasiswa yang mandiri merupakan
penambah nilai jual sebagai lulusan sarjana nantinya dan hal ini merupakan
salah satu upaya untuk mengurangi nilai statistik pengangguran di
Indonesia.
Oleh: Ihmah Risywandha
Mahasiswa Jurusan Matematika
Semester 4
Universitas Negeri Surabaya
Untuk Seleksi Mahasiswa Mandiri Jawa Pos Edisi Kedua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar